Lampung Selatan, Lensanewstv – Ratusan pekerja proyek pembangunan irigasi mengaku menjerit karena hingga kini belum menerima gaji mereka. Para pekerja yang terlibat dalam proyek irigasi Way Ratu di Desa Candimas, Kecamatan Natar, Kabupaten Lampung Selatan, menyebut upah yang belum dibayarkan mencapai sekitar Rp 49 juta.
Koordinator lapangan proyek, Asep, menjelaskan bahwa proyek irigasi Way Ratu memiliki panjang sekitar 750 meter dengan nilai pekerjaan diperkirakan mencapai Rp850 juta. Dalam proyek tersebut, perusahaan pemenang tender adalah PT Brantas yang beralamat di Jakarta Timur, sementara pelaksana lapangan menggunakan subkontraktor CV Selawe Pitu.
Menurut Asep, jumlah pekerja di proyek tersebut mencapai sekitar 74 orang. Sebagian pekerja telah bekerja hingga tiga minggu bahkan satu bulan, namun masih belum menerima sisa gaji mereka.
“Kerugian material dan gaji pekerja yang belum dibayar mencapai sekitar Rp49 juta,” ujar Asep.
Ia menjelaskan, sebagian pekerja berasal dari kelompok yang dibawa Sunyoto sebanyak 17 orang serta Ramli sebanyak 12 orang.
Subkontraktor proyek, Muhlasin yang akrab disapa Mbah, mengatakan bahwa secara keseluruhan PT Brantas memenangkan sekitar 38 paket proyek di Provinsi Lampung dengan nilai mencapai sekitar Rp48 miliar. Proyek-proyek tersebut tersebar di delapan kabupaten, di antaranya di Natar Lampung Selatan, Gedong Tataan dan Tegineneng di Kabupaten Pesawaran, Pujo Rahayu di Kabupaten Pringsewu, serta Way Manak di Kabupaten Tanggamus.
Salah satu mandor proyek, Nur, membenarkan bahwa hingga saat ini para pekerja masih menunggu sisa gaji mereka.
“Kami pusing pak, dikejar-kejar pekerja. Mau Lebaran mereka berharap gajinya dibayar,” ujar Nur.
Karena tidak kunjung mendapatkan kepastian, pada Senin (16/3/2026) sekitar 20 orang yang terdiri dari mandor dan pekerja mendatangi kantor perwakilan PT Brantas di Perumahan Bukit Kencana, Lampung. Namun mereka mendapati kantor tersebut hanya dijaga oleh petugas keamanan.
Menurut keterangan penjaga, para pimpinan dan karyawan termasuk penanggung jawab perwakilan Lampung bernama Hilmi telah pulang ke Jakarta.
Sementara itu, pengawas proyek di lapangan, Yantok, serta penanggung jawab lapangan Nadil juga disebut telah meninggalkan lokasi.
Muhlasin selaku subkontraktor menegaskan bahwa dirinya bukan tidak ingin membayar para pekerja, namun pembayaran dari pihak PT Brantas belum dicairkan.
“Saya sebenarnya bertanggung jawab kepada para pekerja, tapi sampai sekarang dana proyek dari PT Brantas belum cair. Selama ini saya bahkan mencari pinjaman untuk mencicil gaji dan material proyek sampai sekitar Rp400 juta dengan bunga 20 persen,” ujar Muhlasin dengan nada kecewa.
Ia menambahkan bahwa dirinya bersama para mandor dan koordinator lapangan mendatangi kantor perwakilan perusahaan untuk mencari kejelasan, namun pihak penanggung jawab proyek sudah tidak berada di tempat.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada kepastian mengenai pembayaran upah para pekerja tersebut. Para pekerja berharap pihak berwenang segera turun tangan agar hak mereka dapat segera dipenuhi, terlebih menjelang Hari Raya.(Red)



Social Header